Header Ads

Antara Surabaya dan Banjarmasin, Ramadan yang Terasa Berbeda

"Zha, kalau di Wonocolo ini kuncinya cuma satu, jangan telat. Begitu jam empat lewat sedikit, Gang Lebar sudah full," bisik seorang kawan sambil memarkir motornya di dekat gerbang UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. 

Aku mengangguk pelan menatap lautan manusia yang mulai menyemut di gang legendaris itu. Sebagai anak Kalimantan yang baru pertama kali menjalani Ramadan di tanah Jawa, pemandangan ini sungguh unik. Pemandangan perburuan panganan untuk berbuka puasa yang bersemangat!

Rasanya seluruh mahasiswa dari berbagai penjuru kampus tumpah ruah ke sana, membentuk arus manusia yang liat di antara aroma gorengan yang mengepul dan keringat perjuangan pemburu nasi kotak. 

Di Surabaya, Ramadhan juga urusan laga ketangkasan untuk mahasiswa muslim. Menuntut strategi dan militansi mahasiswa, pokoknya harus sat-set dan buru-buru biar kebagian panganan untuk sahur dan berbuka. Semangatnya itu lho, asyik dan seru banget, seolah setiap sore adalah misi rahasia yang harus tuntas sebelum adzan penanda maghrib dan subuh bergema.

Inilah Gang Lebar, belakang UINSA, Wonocolo. Pusatnya beraneka ragam makanan dan minuman untuk berbuka yang menggoda selera.

Namun, melihat itu, pkiranku tetiba melayang balik ke kampung halaman di Banjarmasin. Di sana, di jam yang hampir sama, suasananya sungguh lain. Meski jalanan juga penuh kendaraan dan macet di mana-mana, ritmenya terasa lebih flow dan apa adanya. 

Mahasiswa menikmati sore dengan cara yang lebih santai, tanpa beban harus bertempur demi takjil. Mereka lebih suka menyusuri Pasar Wadai di pinggiran sungai, memilih potongan Bingka Kentang atau Amparan Tatak yang legitnya sanggup menghapus penat kuliah seharian. Atau bahkan bacangkurah di coffee shop.

Merayakan Ramadan di Banjarmasin seperti apresiasi rasa dan tradisi yang mengalir jujur, tanpa perlu merasa tergesa-gesa. Sifatnya yang tenang dan mengikuti alur sungai Martapura memberikan kesan bahwa hidup harus dinikmati perlahan, kontras dengan deru mesin motor di Surabaya.

Fenomena War Takjil ini nyatanya merata di seluruh Surabaya, merambah ke berbagai titik gravitasi mahasiswa. Jika di Wonocolo ada Gang Lebar yang melegenda bagi anak UINSA, maka di sisi timur kota, area sekitar kampus ITS dan Unair Mulyorejo punya ceritanya sendiri. 

Di sana, mahasiswa jurusan teknik dan kesehatan bergabung dalam barisan panjang yang rapi di Masjid Manarul Ilmi atau Ulul Azmi. Mereka membawa semangat yang sama, semangat pemburu takjil yang strategis. 

Seringkali kulihat mahasiswa dengan almamater berbeda saling berpapasan di jalanan, membawa plastik es buah hasil perjuangan menembus macetnya Jalan MERR atau Kertajaya. Surabaya sukses menyatukan seluruh identitas kampus ke dalam satu tujuan yang sama, yaitu mendapatkan pembatal puasa yang nikmat di tengah hiruk-pikuk kota. Ini adalah pemandangan yang sangat asyik dan bersemangat! Melihat ribuan anak muda punya gairah yang sama dalam merayakan sore mereka, aku juga turut bersemangat.

Karakteristik mahasiswa Surabaya ini sangat ekspresif. Di Unesa Ketintang misalnya, keramaian di sepanjang rel kereta api menjadi saksi betapa mahasiswa di sini sangat dinamis. Mereka memilih berbuka di pinggir jalan, duduk di atas motor, sambil sesekali bercanda tentang dosen yang pelit nilai. 

Bagi mereka, Ramadhan adalah ajang solidaritas tanpa batas. Keriuhan ini adalah energi yang membuat Surabaya tetap hidup meski matahari sudah terbenam. Polusi suara dari klakson motor dan teriakan penjual takjil justru menjadi musik latar yang asik, memberikan sensasi bahwa kita sedang berada dalam sebuah perayaan besar yang melelahkan namun sangat memuaskan batin. 

Kita belajar bahwa menjadi mahasiswa di Surabaya artinya harus siap menjadi bagian dari pergerakan massa yang tak pernah berhenti bernapas.

Bandingkan dengan mahasiswa di Banjarmasin yang sedang berada di Universitas Lambung Mangkurat atau UIN Antasari. Mereka mungkin terjebak macet di Jalan Ahmad Yani, tapi tujuan akhirnya adalah ketenangan. Ngabuburit mereka seringkali berakhir di siring sungai, tempat mereka bisa duduk lesehan. Sifatnya yang apa adanya membuat mereka tidak perlu repot-repot bersaing secara militan. 

Cukup dengan sebungkus nasi kuning atau semangkuk es kelapa muda, kebahagiaan itu sudah terasa lengkap. Aliran sungai yang tenang seolah-olah menyerap segala kepenatan akademik, memberikan ruang bagi para mahasiswa untuk benar-benar beristirahat sejenak dari rutinitas yang menjemukan. 

Keindahan Banjarmasin terletak pada kemampuannya untuk tetap merasa damai di tengah kepadatan kendaraan yang merayap.
Di Surabaya, spiritualitas mahasiswa terasa sangat produktif. Setelah menelan takjil di masjid kampus, mereka segera bergeser ke kafe-kafe atau coworking space untuk melanjutkan tugas. 

Ramadan adalah tentang menjaga ritme kerja dan ibadah agar tetap seimbang di tengah kecepatan kota. Kita belajar bahwa syukur bisa diucapkan di sela-sela diskusi revisi skripsi yang marai mumet. Asiknya di sini adalah energinya yang meledak-ledak, bikin kita merasa hidup dan produktif bahkan di saat perut sedang kosong. 

Surabaya memberikan pelajaran berharga bahwa hidup adalah tentang bergerak maju, tidak peduli seberapa padatnya antrean di depan mata. Mentalitas ini seolah tertanam di setiap langkah kaki mahasiswi yang berburu gorengan di Gang Lebar, sebuah semangat juang yang unik dan penuh warna.

Namun di Banjarmasin, Ramadhan memberikan ruang untuk bernapas lebih dalam. Bayangkan mahasiswa yang duduk diam di atas titian kayu, menatap aliran Sungai Martapura yang memantulkan cahaya matahari terbenam. 

Syukur mereka mengalir setenang arus air, jauh dari desakan bahu di Gang Lebar yang bising. Ibadah di mushala-mushala panggung memberikan kesan spiritual yang sangat intim dan bersahaja. Ada kelembutan budaya yang membuat waktu seolah berjalan lebih lambat di sana, kontras dengan gaya hidup serba cepat ala mahasiswi kota pahlawan yang serba ngoyo. 

Di Banua, asiknya itu justru karena semua terasa tenang, mengikuti alur sungai yang tidak pernah mengenal kata buru-buru. Kejujuran suasana di tepian Martapura adalah obat penawar bagi siapa saja yang merindukan kedamaian batin di tengah ibadah.

Perjalanan pertamaku menjalani puasa di Pulau Jawa ini membuka mata bahwa setiap tempat punya cara uniknya sendiri dalam menyambut bulan penuh berkah. Surabaya dengan sifatnya yang militan mengajarkanku tentang kemandirian dan cara bertahan di tengah dinamika kota besar. Sementara Banjarmasin tetap menjadi rumah yang menenangkan dengan sifatnya yang jujur dan mengalir. 

Dua budaya ini adalah kekayaan yang luar biasa bagi pengalamanku sebagai perantau. Aku bangga bisa menjadi bagian dari kerumunan mahasiswa di Surabaya, merasai asiknya perang takjil yang buru-buru namun seru, namun aku juga tetap menyimpan rindu pada kedamaian sungai di tanah kelahiranku yang apa adanya. Pengalaman ini adalah guru terbaik yang mengajarkanku bahwa syukur punya banyak wajah.

Merasakan Ramadan pertama di Jawa membuatku sadar bahwa fenomena ini adalah tentang dua sifat unik yang punya daya tarik masing-masing. Menjadi mahasiswi perantau di Surabaya adalah tentang belajar bertahan hidup dengan semangat yang menggebu. 

Kita bangga bisa menembus kepadatan Gang Lebar demi sepiring nasi syukur di masjid kampus yang rasanya nikmat sekali setelah berjuang. Namun, ada kalanya hati ini rindu keaslian Banjarmasin, tempat kita bisa merayakan kehadiran bulan suci dengan sepotong kue manis dan keheningan senja di pinggir siring yang nyaman banar. 

Pada akhirnya, entah itu lewat riuh rendahnya perburuan takjil di Surabaya atau tenangnya penantian beduk yang flow banget di Martapura, kita semua sedang merawat iman dengan cara yang paling autentik. Budaya buru-buru Surabaya dan budaya apa adanya Banjarmasin adalah dua sisi mata uang yang sama-sama berharga.

Penulis: Hafizhaturrahmah 
Staf Peneliti di Pusat Konstitusi dan Legislasi (Puskolegis) UIN Sunan Ampel Surabaya dan Paralegal Universitas Negeri Surabaya. Praktisi analisis hukum (copywriter) internship di Judistia Law Firm Surabaya.
close
pop up banner