Header Ads

Ketika Mendengarkan Menjadi Profesi, Gadies: Konselor dan Perjalanan Memahami Manusia

Tidak ada rencana besar ketika Gadies Nur Alisa Utami memilih jalan hidupnya. Bahkan, menjadi konselor bukan sesuatu yang pernah ia bayangkan sejak awal. Ia tumbuh seperti banyak anak muda lain di Banjarmasin. Bingung menentukan pilihan, mengikuti alur, dan perlahan belajar memahami diri sendiri. 

Namun dari perjalanan yang tampak biasa itulah, sebuah keahlian diam-diam terbentuk, kemampuan untuk hadir dan mendengarkan.

Kini, Gadies dikenal sebagai konselor berizin. Lulusan S1 Bimbingan dan Konseling yang kemudian menempuh Pendidikan Profesi Konselor, ia menjalani praktek konseling mandiri untuk masyarakat umum. Tidak hanya terbatas pada anak sekolah. Dari Banjarmasin, ia mendampingi klien dengan berbagai latar belakang dan persoalan, mulai dari kecemasan, konflik relasi, hingga pergulatan identitas di tengah tekanan sosial dan ekonomi yang kian kompleks.

Bagi Gadies, konseling bukan tentang memberi jawaban cepat atau nasihat siap pakai. Profesi ini, baginya, adalah soal mendengarkan dengan penuh kesadaran, sebuah keterampilan yang sering dianggap sepele, tetapi justru menentukan apakah seseorang merasa benar-benar dipahami. 

“Mendengar bukan sekadar menangkap kata,” ujarnya suatu kali. “Ada proses menyimak, memahami, dan hadir sepenuhnya di sana.”

Di era ketika kesadaran akan kesehatan mental semakin terbuka, peran konselor menjadi semakin relevan dan sekaligus menantang. Di situlah Gadies berdiri, di antara empati dan batas profesional, di antara keinginan membantu dan keharusan menjaga jarak yang sehat. 

Jalan yang ia tempuh mungkin tidak pernah direncanakan, tetapi perlahan terasa pas seperti sepatu yang akhirnya menemukan kaki pemiliknya.

Dalam tulisan ini, pembaca dapat mempelajari:

1. Perjalanan Gadies menemukan profesi konselor
2. Makna mendengarkan dalam praktek konseling
3. Tantangan konselor di era keterbukaan kesehatan mental
4. Pengalaman mendampingi klien dengan persoalan kompleks 
5. Refleksi tentang kesehatan mental generasi milenial dan Gen Z

KONSELOR - Gadies Nur Alisa Utami, SPd, Kons.

Untuk memahami lebih jauh perjalanan, pandangan, dan pengalaman Gadies sebagai konselor, mari simak perbincangan The Banjarmasiner bersama Gadies Nur Alisa Utami berikut ini.

Perjalanan Gadies menemukan profesi konselor

Bisa diceritakan bagaimana awal perjalanan Gadies hingga akhirnya menjadi konselor?

Perjalanan aku sampai akhirnya menjadi konselor itu sebenarnya tidak pernah aku rencanakan. Aku juga tidak pernah membayangkan kalau suatu hari nanti akan menjadi seorang konselor. Bahkan mungkin waktu itu aku tidak tahu konselor itu apa.

Singkat cerita, aku mengambil S1 Bimbingan dan Konseling itu ikut-ikutan teman. Aku ikut teman ke SMA, sama-sama anak IPS. Aku bingung mau mengambil apa, karena sebenarnya aku ingin sekali menjadi penulis waktu itu. Tapi sekolah sastra kan tidak ada di sini, dan aku juga tidak mau mengajar Bahasa Indonesia.

Aku tanya teman aku, dia mengambil apa. Temanku mengambil Psikologi dan BK. Ya sudah, aku ikuti. Waktu itu ada tiga pilihan: Psikologi, BK, dan Bahasa Indonesia. Qadarullah, kami berdua tidak lulus Psikologi dan akhirnya lulus di BK.

Setelah masuk BK, apakah Gadies langsung merasa yakin dengan pilihan itu?

Setelah masuk BK, masih ada pergolakan batin. Aku masih belum bisa menerima kalau akhirnya aku menjadi guru BK. Waktu semester satu atau dua, ada salah satu kakak tingkat yang memberi tahu kalau jenjang karier guru BK itu tidak hanya mentok menjadi guru BK saja.

Guru BK juga bisa memiliki praktek mandiri, praktek konseling untuk umum, mirip seperti psikolog. Jadi tidak hanya di sekolah saja.

Waktu itu ada tiga tempat pendidikan profesi konselor: Universitas Negeri Padang, UPI Bandung, dan Unnes Semarang. 

Dari situ aku mulai bisa membayangkan dan mulai mantap. Aku berpikir, setelah S1 aku tidak mau hanya menjadi guru BK. Aku ingin mengambil pendidikan profesi itu karena itulah yang membedakan aku dengan guru lain.

Bagaimana proses hingga akhirnya resmi menjadi konselor profesional?

Setelah lulus S1, lalu pandemi COVID-19, dan setelah pandemi selesai barulah aku mengambil PPK di Unnes. Pada akhirnya, pendidikan profesi konselor itu memang hanya ada di Padang dan Semarang.

Aku mengambil di Unnes karena lebih dekat. Dari situ aku resmi menjadi konselor dan sekarang sudah memiliki izin praktek untuk melakukan konseling mandiri bagi masyarakat umum, tidak hanya terbatas pada anak sekolah.

Makna mendengarkan dalam praktek konseling

Apa hal yang paling menarik bagi Gadies dari dunia konseling?

Hal yang awalnya menarik bagiku dari dunia konseling adalah rasa bebas. Bebas dalam arti aku belajar sangat banyak dari orang-orang yang aku temui, dari konsep konseling itu sendiri.

Aku belajar bahwa ternyata mendengarkan itu ada tekniknya. Mendengarkan itu bukan sekadar mendengar, tetapi ada pemahaman dan menyimak. Itulah yang membedakan mendengar biasa dengan mendengarnya konselor.

Kita sebagai orang awam sebenarnya bisa membedakan. Ketika seseorang benar-benar memiliki kemampuan mendengarkan, hasilnya berbeda. Kadang kita bercerita ke seseorang, tetapi rasanya tidak plong. Bisa jadi dia hanya mendengar, tetapi tidak menyimak, tidak seratus persen hadir.

Kalau seseorang benar-benar mendengar dan menyimak, kita bisa merasakan cerita kita menjadi lebih lega, lebih terang. Aku sangat takjub dengan kemampuan ini. Kelihatannya sederhana dan kecil, tetapi dampaknya besar.

Bagaimana Gadies melihat profesi ini?

Aku percaya mungkin ini memang takdir Allah untuk aku. Sesuatu yang tidak pernah aku rencanakan.

Waktu aku mengumumkan ke teman-teman SMA, mereka bertanya, “Lu lulus di mana?” Aku jawab, “Aku di Unlam, ambil S1 BK, jadi guru BK.” Mereka bilang, “Iya, guru BK. Itu mah lu banget.”

Aku sering mendengar kalimat itu. Awalnya aku tidak paham kenapa mereka bilang begitu. Sampai akhirnya aku membersihkan folder lama dan menemukan arsip percakapan dengan salah satu teman SMA.

Waktu itu dia sedang ada masalah dan curhat ke aku melalui pesan. Aku merespons dan mendengarkan dia dengan sungguh-sungguh.
Setelah aku baca ulang, dan setelah aku tahu apa itu konseling, ternyata aku sudah melakukan itu jauh sebelum aku tahu apa itu konseling. Jadi mungkin memang bakatku ada di sana.

Aku mungkin tidak berbakat dalam menulis, tetapi aku berbakat dalam mendengarkan. Aku jarang memberi saran, tetapi aku berusaha hadir. Dan temanku bilang, setelah curhat ke aku, dia merasa lega dan mendapatkan pandangan baru. Itu terjadi saat aku kelas dua SMA.

Apa makna profesi konselor bagi Gadies secara personal?

Arti profesi konselor bagi aku sangat besar. Karena tidak semua orang tahu profesi ini. Banyak juga yang masih bingung perbedaan konselor dan psikolog. Bahkan di kalangan kami sendiri masih menjadi perdebatan.
Namun, bagi aku, profesi konselor adalah panggilan jiwa. Aku mengamini dan aku jalani.

Ternyata profesi ini tidak sesimpel yang aku bayangkan. Tidak sulit, tetapi juga tidak mudah. Unik. Dari konseling aku belajar banyak hal, bertemu banyak orang, dan menjadi pribadi yang lebih memahami orang lain.

Tantangan konselor di era keterbukaan kesehatan mental

Bagaimana melihat kondisi kesehatan mental di era sekarang, khususnya di Banjarmasin?

Di zaman sekarang, saat orang semakin terbuka soal kesehatan mental tetapi masalahnya semakin kompleks, rasanya seperti, “Oh, ini waktunya kita beraksi.”

Kesadaran kesehatan mental memang meningkat, tetapi pengendalian emosi menurut aku adalah hal yang berbeda. Banyak orang mengira emosi itu hanya marah, padahal emosi ada yang positif dan ada yang negatif.

Kurangnya pengetahuan membuat kita sering tidak tahu apa yang sebenarnya kita rasakan. Kita lebih mengenal diri dari luar atau dari kata orang lain. Namun sekarang aku melihat mulai banyak metode refleksi diri, seperti journaling.

Menulis tidak harus bagus, cukup jujur. Musik, film, dan buku juga bisa menjadi representasi perasaan.

Pengalaman mendampingi klien dengan persoalan kompleks 

Pengalaman apa yang paling berkesan selama mendampingi klien?

Pengalaman mendampingi klien semuanya berkesan. Namun yang paling kuat itu saat aku masih menjadi mahasiswa praktikan di Unnes, magang di UPTD PPA bagian perlindungan perempuan dan anak.

Mayoritas klienku adalah anak-anak korban kekerasan seksual oleh orang terdekat. Itu benar-benar membuka mataku.

Kasus-kasus tersebut membutuhkan kelembutan, kesabaran, dan empati yang sangat dalam. Namun empati juga harus memiliki batas profesional.

Dalam konseling ada informed consent. Kita menjelaskan proses, durasi, dan kemungkinan efek emosional. Ketika sesi selesai, tugas kita juga selesai di situ.

Kalau empati terlalu dalam tanpa batas, kita bisa kehabisan energi. Setelah sesi, konselor juga merasa sangat lelah. Perlu waktu untuk mengisi ulang energi. Bahkan konselor pun membutuhkan konselor.

Bagaimana perbedaan konseling daring dan luring menurut Gadies?

Saat ini aku lebih sering melayani konseling daring karena belum memiliki tempat praktek luring.

Konseling daring itu praktis dan fleksibel, tetapi kekurangannya kita tidak bisa membaca bahasa tubuh secara utuh. Konseling luring memberi banyak data tambahan dari gestur, tatapan, dan posisi tubuh klien.

Refleksi tentang kesehatan mental generasi milenial dan Gen Z

Tantangan mental apa yang paling sering Gadies temui pada milenial dan Gen Z?

Tantangan mental yang paling sering aku temui pada milenial dan Gen Z adalah kecemasan. Dipicu oleh tekanan media sosial, perbandingan hidup, pekerjaan, ekonomi, pernikahan, dan ekspektasi orang tua.

Generasi sekarang sebenarnya sangat sadar akan kesehatan mental, dan itu perubahan yang positif. Tetapi ada juga sisi yang keblinger, seperti swadiagnosis dari konten media sosial tanpa dasar ilmiah.

Hal itu berbahaya jika dijadikan patokan hidup. Kesadaran diri seharusnya berkelanjutan, bukan sekadar reaksi sesaat.

Apa pesan Gadies tentang konseling untuk masyarakat umum?

Menurut aku, konseling tidak perlu menunggu sampai “parah”. Konseling itu membantu mengenali diri. Jangan takut meminta bantuan. Itu bukan tanda kelemahan.

Bagian paling berharga dari profesi ini adalah aku menjadi tidak mudah menghakimi orang lain. Aku belajar bahwa setiap orang memiliki alasan yang valid untuk dirinya sendiri.
Sepatu yang pas di kaki dia belum tentu pas di kakiku.

Jika bukan konselor, Gadies membayangkan diri Gadies menjadi apa?

Kalau bukan konselor, mungkin aku akan menjadi guru Bahasa Indonesia, penjahit, atau arkeolog seperti Nico Robin. Tetapi alhamdulillah, aku berada di jalan ini.

Ke depan, aku ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi untuk menambah perspektif dan keilmuan. Semoga Allah mengizinkan.

Satu kalimat yang menggambarkan Gadies sebagai konselor?

Mungkin slogan dari program studiku, Prodi BK FKIP ULM: “Bila hatimu bicara, BK memahaminya.”


close
pop up banner