Header Ads

Silaturahmi ke Coffee Roastery Terkalcer se-Indonesia dari Jogja untuk Pembaca The Banjarmasiner

Bagi saya, Jogja sudah seperti “kawah candradimuka” bagi perkembangan tren kopi seduh manual di Indonesia. Harus diakui, daerah ini melahirkan nama-nama besar dalam meta manual brew Tanah Air. 

Terutama bagi penyeduh rumahan, seperti saya. Rasanya, sudah berulang kali saya membeli biji kopi dari kota ini, termasuk dari Space, melalui e-commerce Tokped, untuk dikirim ke Banjarmasin. Sampai-sampai di dinding rumah, pada bagian spot seduh kopi, tertempel tasters flavour wheel dari Space yang saya dapatkan bertahun-tahun lalu.

Barangkali, pengalaman serupa juga dirasakan para penyeduh kopi manual rumahan di berbagai daerah di Indonesia.

Nama-nama seperti Klinik Kopi, Tadasih, Lestari, Pitutur, hingga Space Roastery, sudah seperti tujuan “ibadah ngopi” wajib di kota yang artistik ini. Klinik Kopi dengan slow bar anti scale-scale-an-nya, dan Space dengan Pink Halu Banananya yang ikonik itu.

Jika biasanya hanya memantau, membaca, dan menyaksikan dari layar ponsel pintar, kali ini, Jumat (9/12/2026) malam, saya memboyong satu keluarga, istri dan dua anak, ke salah satu outlet Space Roastery (One) di kawasan Malioboro. Saya ingin merasakan langsung nuansa Space Roastery itu sendiri bersama keluarga di kota yang istimewa ini. Tulisan ini pun ditulis, setelah pulang dari sana, di penginapan yang jaraknya sekitar 6,5 KM dari Malioboro di Druwo, Bangunharjo, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta.

SPACE ROASTERY - Kawasan Malioboro.

Menuju ke sana tidaklah sulit. Cukup mengandalkan Google Maps, Space Roastery One sudah bisa kita jumpai. Tepat di pinggiran Jalan Mangkubumi, sebuah tulisan Space Roastery One dengan latar ungu pastel bergaris kotak simetris menandai awal kedatangan. Dari depan saja, nuansanya sudah terasa sangat “kalcer”.

Anak-anak muda dengan gaya berpakaian yang tentu saja “kalcer” tampak berasyik masyuk berbincang. Entah mereka anak-anak muda asli Jogja atau wisatawan dari luar kota, saya tak benar-benar tahu. Kawasan Malioboro memang selalu menjadi titik temu berbagai latar dan identitas. Namun satu hal terasa sama, aura skena tercium dengan jelas.

Masuk ke dalam, kami disambut deretan teko, semacam teko penahan panas, berisi seduhan kopi manual brew sebagai sampel yang bisa dicoba sebelum memutuskan untuk memesan kopi. Baik filter maupun espresso base.

Di dinding sebelah kanan, tampak berderet kotak dan bungkus biji kopi dari berbagai daerah, dalam dan luar negeri, yang ditawarkan kepada para tamu. Ada dari Ethiopia, Kenya, Bali dan dari Jogja sendiripun ada. 

Dengan agak sedikit sok akrab, saya juga sedikit (banyak sih) bertanya kepada barista yang berada di balik meja bar Space. Belum sempat terucap satu kata, si mba barista sudah gercep menjelaskan sambil menunjuk ke meja persis di belakang saya, yang berisi deretan teko-teko, gelas-gelas keramik dan juga penjelasan mengenai biji-biji kopi andalan mereka. "Silakan kak di belakang  itu bisa mencicipi dulu kopi-kopi kita, nanti kalau ada yang cocok bisa dipilih," ujarnya ramah.

Bukan sombong, tapi saya sudah lumayan hapal biji-biji kopi andalan mereka. Mulai dari Pink Halu Banana, sampai biji kopi blend mereka Forbidden Flower. Jadi daripada berlama-lama ngeropotin mba barista Space, saya potong saja (maaf ya mba).

"Saya mau beli biji kopi yang dikotaknya itu ada lukisan anjing (lagi minum orange juice) itu ya mba. Kintamani Orange itu," balas saya sambil menunjuk-nunjuk ke arah atas bagian etalase biji kopi yang terkena semburat cahaya ungu dari lampu di dalam ruangan.

Usai menanyakan harga, sedikit basa-basi, akhirnya saya membeli sebungkus biji kopi arabika dari Bali yang konon kata mereka memiliki citarasa jus jeruk. Hayo, piye? Bingung kan? Mesti ada muncul pertanyaan dalam hati para pembaca The Banjarmasiner nih."Masa kopi ada rasa jeruk. Kopi ya pait."

Itu tidak usah sampeyan pertanyakan, bingungkan, apalagi perdebatkan. Ora usah mas/mba! Ini istilah rasa untuk para mereka yang memang sudah terbiasa meminum kopi hitam filter, menggunakan biji kopi arabika (titik). Kalau pakai robusta ya ga masalah juga sih. 

Belum selesai urusan bayar membayar, pandangan saya tertuju pada sebuah pin besi kecil imut cantik berwarna hitam dengan pinggiran keperakan berkilau sedikit. Di sana bertuliskan Home Brewer Indonesia. Aha! Ini dia! Sebagai seorang home brewer, jelas ini sangat menggiurkan. Sama seperti kolektor jam tangan Patek Phillippe melihat model yang classy yang belum ia miliki. 

Sat set sat set! Akhirnya masuk ke dalam hitungan pembayaran juga pin enamel kecil sehargar Rp50.000 itu. Senang, sembari mengira-ngira, akan dipakai di mana pin ini nantinya? Di baju, di tas, atau di topi? Sambil sumringah sendiri.

Sebenarnya masih ada lagi deretan baju kaos pada bagian dalam ruangan Space Roastery One. Itu juga benar-benar seperti memanggil-manggil untuk dibeli. Tapi tentu juga harus bijak bukan? Apalagi kalau ibunegara di samping sudah mulai agak mengernyit, membeli biji kopi yang katanya punya rasa jus jeruk, pin enamel kecil seharga Rp50.000 dan dua cangkir kopi rasanya sudah cukup lah. 

Secangkir kopi filter manual brew Bali Kintamani Orange pun disajikan. Diseduh menggunakan alat semi-immersion, Tricolate, tampaknya. Dituang ke dalam gelas kertas. Saya membawa secangkir kopi itu keluar, sembari merasakan udara kawasan Malioboro. Istri saya memesan secangkir ice coffee latte, sesuai menu kesukaannya.

Perut terasa keroncongan karena lapar. Kami lalu singgah ke warung nasi rames pinggir jalandekat sana. Menikmati sepiring nasi rames, lalu menyeruput kopi dari Space. Sedap rasanya. Di kawasan Malioboro, pada malam dengan hujan gerimis yang syahdu. Sebuah kenikmatan yang sangat saya syukuri. (sip)

Ditulis oleh: Syam Indra Pratama, EIC Hudes Magazine

close
pop up banner